Pukul 23.17. Dokter pilihan Tatang sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Kamar pun telah lengang, menyisakan Lino yang tak bisa tidur. Hatinya gundah dan sedikit merasa bersalah saat melihat satu lebam di wajah Irvan muncul sebab dirinya.
Tadi dokter bilang, Irvan sedang dalam kondisi syok ringan. Kabar berita orangtuanya itu, sepertinya memang memukul jauh mental Irvan sampai down seperti ini. Ia mungkin boleh terlihat kuat dan keras. Tapi sesungguhnya, Irvan sedang dilanda resah yang luar biasa. Belum lagi karena Irvan yang tak nafsu makan hari ini. Tubuh yang butuh asupan itu kurang nutrisi. Ditambah, adegan adu otot dengan Arsaka semakin membuat kondisi tubuh prima itu melemah. Hingga berakhir demam dan menggigil seperti tadi.
Dokter sudah memberikan obat tidur dan penurun panas untuk Irvan. Sehingga, pria itu bisa terlelap dengan tenang.
“Lino, gak ngantuk?” Arsaka yang eksistensinya juga bergabung di kamar ini pun bertanya pelan.
Lino menggeleng. “Belum,” jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Arsaka menghela napas berat. Ia tahu bahwa Lino kini juga tengah resah. Bagi Lino, meski Irvan menyebalkan dan suka membangkitkan emosi, ia tetaplah menjadi orang yang special dalam hidupnya.
Lino ingat sekali. Bagaimana pria itu selalu jadi sosok yang membuat sendunya berubah menjadi rasa sebal. Meski saat itu Irvan selalu sungguh-sungguh dalam hal meledek, tapi setidaknya, Lino jadi lupa dengan permasalahan keluarga yang pilih kasih terhadapnya. Bahkan, masih melekat erat dalam benak Lino bahwa Irvan pernah hampir menghantam Sandi karena terlalu cari muka pada orangtuanya. Menyalahkan Lino, dan membuat nama pria itu jatuh begitu saja. Irvan tak suka, kalau temannya diperlakukan demikian.
“Lo tidur duluan aja, Sa. Gue masih mau jagain Irvan.” Lino meraih handuk kecil yang mulai mengering di dahi Irvan. Menyelupkannya kembali pada baskom yang berisi air, kemudian meremasnya. Kini ia taruh kompres itu di perpotongan leher Irvan. Demam pria itu masih cukup tinggi.
“Kalau gitu, Arsa tidur di sini aja, boleh? Nanti kita gantian jagainnya,” ucap Arsa meminta persetujuan Lino. “Gimana?”
Lino mengangguk. “Boleh. Lo tidur duluan aja,” jawabnya sembari menoleh pada Arsa yang duduk di sofa. Pria itu pun mulai merebahkan dirinya di sana. Sementara Alvaro, Senan, Nuraga, dan Nuel, mereka kini tengah beristirahat. Bahkan mungkin sudah terlelap di kamar masing-masing.
Nuel yang awalnya sekamar dengan Irvan, berakhir mengungsi ke kamar Nuraga yang dihuninya oleh Lino semalam. Mereka ganti rekan sekamar.
Pukul dua dini hari. Arsaka menggeliat. Matanya yang memicing itu sedikit ia buka untuk melihat situasi di dalam sini. Dan benar saja, bahwa Lino masih tak bergerak dari posisinya. Pria itu masih sibuk merawat Irvan yang tengah sakit.
Sebenarnya, sedari tadi Arsaka tidak benar-benar terlelap. Ia hanya memicingkan matanya saja. Ringisan dan rengekan sakit sudah beberapa kali terdengar dari bibir Irvan. Pria itu mengigau.
“Eungh...” Lagi, Irvan melenguh tak nyaman. Mungkin ia juga masih merasa kedinginan. Lino pun dengan sabar menarik selimut demi membungkus tubuh Irvan hingga batas leher.
Arsaka memperhatikannya dalam diam. Lino merawat Irvan dengan sangat tulus. Ia jadi ingat bagaimana saat di panti dulu, Pak Umar adalah sosok yang merawatnya dengan sangat telaten ketika ia sakit.
“Mami... ” Irvan kembali meracaukan ibunya. “Dingin... ” lanjut Irvan yang kemudian meringkuk. Membuat handuk kompres yang telah berpindah lagi ke dahi itu menjadi jatuh ke bantal. Mau tak mau, Lino meraihnya, dan memperbaikinya kembali.
“Eungh, Lino Anjing. Awas lo!” Lino menahan tawa saat Irvan masih sempat mengumpatinya dalam tidur.
“Berisik banget bocah,” gumam Lino sembari memperbaiki selimut Irvan. Anak itu, mau bangun ataupun tidur, mau sehat ataupun sakit, tetap saja, berisik dan selalu mengumpat.
“Tidur, Lino.” Arsaka yang tadi tersenyum melihat interaksi Lino dan Irvan pun memperingati temannya itu untuk segera terlelap.
Lino menoleh kaget. “Bikin jantungan aja lo!” ucapnya dengan raut wajah sedikit terkejut. Ia kira tadi Arsaka sudah lelap.
“Tidur, kamu juga butuh istirahat.”
“Lo lebih butuh, Arsa. Badan lo tuh liat. Lebam semua. Sakit 'kan?”
Arsaka terdiam. Sedangkan Lino sudah berdiri dan berjalan ke arahnya.
“Pindah, biar gue yang di sofa. Lo tidur di sana,” ucap Lino menunjuk ranjang yang kosong.
“Tapi—” Kalimat Arsaka terhenti saat Lino melotot padanya. Menandakan ia tak mau dibantah.
“Good,” ucap Lino saat Arsaka yang pasrah berpindah ke ranjang. Lino pun merebahkan tubuhnya di sofa.
Lima belas menit pun berlalu. Mata Lino sayup-sayup sudah mulai tertutup. Ia sudah mengantuk.
“Irvan, maaf... ” batin Arsaka yang masih setia mengamati Irvan dari ranjangnya.
“Akhh!” Arsa meringis sakit saat hidungnya tergesek keras dengan bantal. Pukulan Irvan memang luar biasa. Untung tadi dokter bilang hidungnya tidak kenapa-napa. Tidak retak seperti yang ia khawatirkan.
Aliansi Garuda Melegenda
Karya Rofenaa
©ebbyyliebe