Kerasnya Irvan

rofenaa
6 min readJan 27, 2022

Tuk!

“Anjing!” umpatan itu terdengar saat seseorang yang Irvan benci malah menarik dan membuang rokok yang terselip di belah bibirnya tersebut.

“APA-APAAN LO?!!” Irvan membentak sembari mencengkeram seragam sekolah lawannya yang dari jam pulang sekolah belum sempat terganti.

Yang dibentak pun hanya diam sembari memicingkan matanya sekejap. Suara Irvan benar-benar menggelegar dan memekakkan telinga.

Cengkraman itu menguat. Sebagai lawan Irvan, ia tentu dapat melihat dengan jelas bagaimana rahang itu mengeras dari jarak pandang sedekat ini. Mata Irvan merah dan membola. Tersirat jelas bahwa kini ia tengah dikuasai oleh kecewa dan amarah.

“Merokok bukan solusi, Irvan.” Suara itu melantun tenang. Tak ada sedikitpun nada kekesalan yang terdengar di dalamnya.

“Kamu masih sakit, istirahat, ya? Kita balik ke asrama.” Tangan yang mencengkram erat kerahnya itu pun ia genggam dengan kedua tangannya pula. Mencoba membujuk dan melepaskan sesak yang mendera. Sungguh, cengkraman itu membuatnya merasa tercekik. Tapi nada bicara dan raut wajahnya masih terlihat seperti biasa. Ramah dan tenang.

Dia, Arsaka Laksana, yang begitu pandai mengontrol dirinya.

“Van, marah dan keras kepala kayak gini gak akan bisa kasih kamu solusi. Kamu harus tenang,” ucapnya pada Irvan. Ya, dia Arsaka. Orang yang entah kenapa membuat Irvan selalu benci dimana pun kehadirannya.

Tapi, dari lima orang temannya, kenapa harus Arsaka yang menemukan ia di sini? Di rooftop sekolah yang ia terobos begitu saja di malam hari.

Hiruk pikuk kota terpampang jelas dari atas sini. Embusan angin malam pun menusuk kulit meski Irvan sudah menggunakan jaketnya.

Dingin. Bukan hanya cuaca, tapi juga hati dan hidupnya.

Hampa, marah, dan kecewa. Semua menjadi satu dalam dirinya.

Karena cengkraman itu tak kunjung melonggar, Arsaka pun memilih melingkarkan tangannya pada punggung Irvan. Merengkuh orang yang tak pernah sekalipun ia taruh benci padanya. Dengan cara begitu pula lah, Irvan pasti mau melepaskan cengkeramannya. Sebab, dia juga mana sudi dipeluk oleh manusia seperti Arsaka Laksana.

Brukk!

Tubuh yang sama tinggi dengannya itu Irvan dorong dengan kuat. Tapi tak membuat Arsaka sampai jatuh terjungkal. Hanya terdorong mundur beberapa langkah saja.

Arsa tentu dapat melihat bagaimana napas Irvan yang memburu menatapnya. “APA?! LO PUAS KAN LIAT KELUARGA GUE HANCUR KAYAK GINI?”

Lagi, Arsa hanya bisa meringis mendengar suara Irvan. Pria ini suka sekali berteriak dan membentak. Belum lagi memang volume suaranya yang luar biasa hampir menyamai speaker sekolah.

“Bisa gak sih lo gak teriak-teriak?”

Kedua atensi milik Irvan dan Arsa pun beralih pada sosok yang baru muncul di tempat ini. Dia, Lino Cakrawala, yang membuntuti Arsa hingga sampai kemari. “Kuping gue yang sakit dengernya,” sambung Lino memilih berdiri tiga langkah di depan Arsa. Menjadi pembatas antara dua manusia ini tentunya.

Padahal, siapapun tahu, bahwa Arsa selalu berniat baik. Irvan saja yang kesurupan reog.

“Van, mungkin kita emang gak tau gimana rasanya jadi lo sekarang. Tapi, satu hal yang pasti kita tau,” kalimat itu menggantung, “Lo, lagi gak baik-baik aja.” Lino pun berjalan mendekati Irvan. Mencengkram bahu temannya yang dipaksa untuk tetap berdiri tegap.

“Kita sama-sama tau, kalau impian lo itu jadi penyanyi terkenal. Dan lo pasti lagi ngerasa jalan yang bakal lo lewatin itu gak akan semulus yang lo kira 'kan?”

Ya, Lino pun benar dalam sekali tebak. Skandal penyalahgunaan narkoba yang melibatkan kedua orangtuanya itu pasti akan berpengaruh besar terhadap karir Irvan di masa depan. Dia bukannya egois. Tapi Irvan sudah memantapkan pilihannya dari awal. Keinginan dirinya dan kedua orangtuanya itu sudah ia paksa untuk menjadi sealur dan sepaham. Tapi, kenapa? Kenapa mereka pula lah yang akan menjadi halangan terbesar Irvan untuk menggapai cita-citanya?

Dulu, saat Irvan memutuskan untuk menjadi Gamers Profesional, orangtuanya sangat menentang. Tapi kini, saat bakat bernyanyi itu telah ia mantapkan dan teguhkan, mengapa mereka pula yang patahkan?

“Gak jago nyebat aja belagu banget.” Lino melirik sebungkus rokok yang tergeletak di atas meja tak terpakai. Irvan mungkin menaruhnya di sana. “Beli dimana?” tanya Lino. Ia tahu, peraturan di sekolahnya ini tentu sangatlah ketat. Ketawan membawa korek saja bisa langsung masuk BK, gimana kalau sebungkus rokok?

Sementara itu, Irvan hanya diam dengan tatapan menghunusnya. Ia tak suka melihat Lino yang selalu bersikap sok keren di hadapannya.

“Kalau ketawan sama pembina asrama gimana? Lo nya juga yang susah, Van. Apa kata orang-orang nanti? Lo pasti paham lah maksud gue... ”

Jika nanti sempat ketahuan, maka habislah riwayat Irvan. Dia pasti akan dicap sangat buruk. Keluarganya yang memiliki pamor di dunia entertainment itu harus lagi dirusak atas tindakan gegabah Irvan dengan cara merokok di lingkungan sekolah.

“Harusnya lo pikir pake otak lo, Van!”

“Lino, udah.” Arsa menegur Lino. Ia takut kalau kalimat-kalimat yang Lino lontarkan akan semakin membuat Irvan merasa *down*. Ia paham kalau maksud Lino itu baik. Ia juga tahu kalau Lino khawatir dengan kondisi temannya itu. Tapi, dengan berbicara demikian, tentu waktunya sangat tidak tepat. Irvan masih sensitif. Orangtuanya itu baru saja tertangkap. Tentu tak akan mudah bagi Irvan untuk mengerti terhadap situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.

“Irvan, kamu boleh kok kesal,” bibir yang selalu melantunkan kalimat-kalimat sopan itu kembali terbuka, “tapi jangan pernah korbanin diri kamu sendiri. Merokok itu gak baik buat kesehatan, Van,” sambungnya.

“Nanti, kalau paru-paru Irvan rusak gimana? Pernapasan Irvan jadi gak teratur lagi gimana?” tanya Arsa. “Terus, gimana dong nanti sama cita-cita kamu yang mau jadi penyanyi terkenal? Semua itu ada dampaknya, Irvan. Aku bukannya merasa sok paling benar. Tapi ini demi kebaikan kamu.” Panjang lebar Arsa menjelaskan dengan cara mengkaji dari perspektif buruk yang akan terjadi di masa depan.

Irvan mendengus, lalu melengos tak peduli. “Percuma, udah telat. Karir gue di masa depan juga udah hancur sejak awal,” jawabnya sembari berjalan demi meraih sebungkus Marlboro yang ia letak di atas meja. Tapi, tangan Arsaka malah terlebih dahulu menyimpan barang tersebut ke dalam saku celananya.

Irvan berdecak sebal. Ia melotot pada sosok yang lama kelamaan semakin membuatnya naik darah. “Balikin gak?!” titahnya memberi perintah penuh nada paksaan.

Arsa hanya menghela napasnya pelan. “Irvan, kita kayak gini tuh bukan karena mau ikut campur. Tapi karena kita semua peduli.”

Lino masih diam mendengarkan. Sementara Irvan, hidungnya sudah kembang kempis menahan gejolak amarah. Ia tak butuh perhatian palsu seperti ini.

“Temen mana sih yang tega ninggalin temennya dalam keadaan susah kayak gini?” lanjut Arsa bertanya.

“Tapi lo bukan temen gue!”

Sakit. Rasanya Arsa cukup tertohok saat mendengar lantunan tersebut terdengar dari bibir Irvan. Namun Arsa hanya memberi senyum tipisnya yang manis. Menunduk sebentar, lalu kembali menatap lekat pada mata Irvan yang menyorotkan kebencian.

“Kalau belum jadi temen aja Arsa udah peduli kayak gini, gimana kalau kita jadi temen beneran?”

Hening. Hanya suara kendaraan berlalu lalang yang terdengar selama sepuluh detik berlalu.

Kemudian gelak tawa terdengar menguar dari mulut Irvan. Keras. Keras sekali ia tertawa. Lino saja sampai mengerut heran melihatnya. Memang, ada yang lucu dari kalimat Arsa?

“GAK USAH NGIMPI!!!”

Lalu, bahu Arsaka pun Irvan tabrak dengan sekuat tenaga. Ia berjalan meninggalkan rooftop sekolah yang telah menjadi tempat menyebalkan baginya.

“Cih, emang gak tau diri,” desis Lino yang kesal setengah mati terhadap tindakan Irvan. “Udah lah, Sa. Biarin aja dia. Mau jungkir balik sekalipun gak usah dipeduliin lagi. Anaknya juga gak tau diuntung.”

Arsa menyenggol pelan lengan Lino sembari menggeleng. Menandakan bahwa Lino tak boleh berbicara demikian. Mau bagaimana pun, Irvan pasti butuh waktu. Jangan sekalipun meninggalkan mereka yang butuh dorongan untuk bangkit.

Semoga, dengan kita tetap peduli meski ia telah bersikap demikian, mungkin suatu saat nanti Irvan akan menyadari, bahwa betapa tulusnya Arsa dan yang lainnya peduli. Seberapa besarnya rasa khawatir teman-teman terhadap dirinya tersebut.

“Susulin gih!” suruh Arsa pada Lino untuk menyusul Irvan. Takutnya anak itu malah kelayapan. Sebab, jam tidur telah berlaku sejak bermenit-menit yang lalu.

Akan jadi masalah jika mereka, para siswa asrama masih berkeliaran tidak jelas di pekarangan sekolah.

Lino mendengus. Masih speechless dengan kesabaran dan keikhlasan Arsaka. Lalu, ia pun merangkul pundak Arsa untuk turun bersama. Sebab, dia juga sedikit takut jikalau turun sendirian di gedung yang pencahayaan remang-remang di malam hari.

Aliansi Garuda Melegenda
Karya Rofenaa

©ebbyyliebe

--

--

rofenaa
rofenaa

Written by rofenaa

bagian dari hobi dan mimpi.

No responses yet