Berjam-jam yang lalu.
Siang kali ini terasa sejuk. Sebab gumpal awan putih di atas sana tengah merajai bentangan langit biru. Terik mentari pada jam ini jadi tak terasa menyengat kulit. Hal tersebut terbuktikan kala Najmi dan Abbas memilih menepikan mobil mereka di sebuah parkiran yang ada di dekat taman kota. Ibu dan anak tersebut berniat untuk membeli beberapa buket bunga. Kebetulan, selain adanya pedagang bunga keliling yang tumben sekali terlihat, bunga di rumah mereka juga sudah mulai layu. Sudah saatnya diganti.
“Mama, Abang mau yang tulip putih, apa boleh?” Abbas bertanya saat Najmi mulai memilih berapa rangkai bunga yang ingin ia beli.
Bapak si penjual pun menatap takjub. “Eh, bujang kecil sudah tau nama-nama bunga, ya?” tanyanya ramah dengan senyum cerah. Tak lupa diusapnya kepala Abbas dengan penuh kasih.
Yang ditanya tentu mengangguk antusias. “Sudah, Kakek!”
Bapak si penjual bunga lantas terkekeh gemas. “Oh, ya? Nama kamu siapa?”
“Abbas. Namaku Abbas, Kakek.” Bicaranya memang cukup kaku, namun terdengar sangat menggemaskan. “Nama kakek siapa?”
“Perdi. Tapi biasa dipanggil Keling.”
Abbas tampak terkekeh. “Kenapa Keling, Kek?”
“Karena dari dulu kulit kakek tuh keling. Jadi ya dipanggil begitu deh!” Mendengar percakapan dua orang yang terpaut usia sangat jauh bak cucu dengan kakeknya itu, sesekali Najmi terkekeh. Bapak penjual bunga, alias Pak Keling pun juga tak lupa mengikat dan membungkus beberapa pilihan bunga yang Najmi inginkan.
Abbas tampak mengangguk-angguk. Bahkan percakapan pun berlanjut dengan Keling yang memberi tahu nama-nama bunga yang belum Abbas ketahui.
“Ma, Mama belum jawab pertanyaan Abang.” Abbas menarik pelan ujung baju Najmi dengan tangan mungilnya. Najmi yang sibuk hendak mengeluarkan uang dari dompet pun lantas menunduk. “Eh, yang mana ya, Sayang?”
Abbas pun menunjuk kumpulan bunga tulip putih. “Abang mau tulip putih. Boleh?”
Najmi tentu kini terkekeh. Lalu menjawab pertanyaan sang putra dengan sebuah pertanyaan. “Boleh aja, sih. Tapi emangnya buat apa sama Abang?”
“Buat ditaro di rumah Abang.”
“Hah? Rumah kamu ‘kan rumah Mama sama Papa juga? Ini udah banyak nih Mama beli.” Najmi pun menunjukkan beberapa buket dan berbagai macam bunga yang sudah ia dekap.
Jagoan itu menggeleng. “Maksudnya kamar Abang,” koreksi Abbas tersenyum kecil.
“Tulip merah jambu aja, mau nggak?” tawar Keling. “Karena tulip putih biasanya buat suasana duka, Bas. Energinya kurang baik kalau mau ditaruh di rumah. Apalagi di dalam kamar.” Sang penjual, tentu tahu berbagai macam makna bunga yang ia perjualbelikan.
Abbas lantas mengerling. “Oh, gitu ya, Kek? Padahal Abbas suka tulip putih. Lucu bunganya,” gumamnya. “Ya udah deh, kalau gitu Abbas mau yang merah jambu aja. Tapi makna bunganya apa, ya, Kek?”
“Nah, kalau tulip merah jambu, energinya positif! Melambangkan sukacita, Bas. Biasanya dikasih buat sebuah ucapan selamat atas keberhasilan.”
“Oh, ya?!” Abbas kini tampak kembali bersemangat. “Ya udah Abbas mau itu 3 tangkai,” jawabnya. “Boleh ‘kan, Ma?”
Najmi mengurai tawanya yang terdengar merdu. Lalu menyempatkan tangannya yang kosong untuk mencubit pipi gembil Abbas dengan gemas. “Iya, Sayang. Boleh.”
Lantas ia melompat kecil kesenangan. Jagoan tersebut mengulurkan tangannya pada Keling agar lekas memberikan bunga tersebut.
“Nih, bunganya buat Mama!”
“Lho?” Najmi mengerutkan dahi. Ia tentu menaruh heran saat Abbas malah memberikan bunga tersebut untuk dirinya. “Bukannya tadi mau Abang taruh di kamar, ya?”
Abbas menggeleng. “Enggak. Kalau yang ini Abbas beli buat Mama,” ucapnya dengan lafaz pasti. “Anggap aja ucapan selamat buat Mama yang udah berhasil jadi ibu yang baaiiiiikk banget buat Abang! Mama selalu sabar ngajarin aku banyak hal. Mama juga sering masak makanan yang enak-enak buat Abang sama Papa. Mama juga nggak pernah marah waktu Abang selalu nolak buat makan sayur, hehe …”
Dia tertawa sumbang. Namun sedetik berikutnya, Nada bicara Abbas kembali terdengar semangat. “This is for The Best Mother ever in this world!” Diserahkannya buket kecil tersebut pada sang Mama yang menatap penuh haru.
Karena tiba-tiba dihadapkan dengan Abbas yang berkata seperti ini, tentu membuat Najmi kehilangan kemampuan bicaranya meski sejenak. Jagoan kecilnya, sangatlah mirip dengan sang suami yang sering melontarkan bermacam pujian meski orang lain mungkin saja menganggapnya hal kecil dan remeh.
“Sayang …” Najmi menaruh buket bunga yang ia dekap demi memeluk raga mungil Abbas. “Makasih ya, Sayang. Pinter banget anak Mama!” ucapnya sembari membawa sang anak ke dalam rengkuhan. Kecup pada pipi gembil tersebut turut diberikan beberapa kali, lalu dibalas pula oleh Abbas yang tak kalah sayang pada orang tuanya.
“Maaf ya, Ma. Belinya pakai uang Mama dulu.” Senyum tipis Abbas, ciptakan lubang kecil pada pipinya. Anak itu punya lesung pipi yang terlihat samar. “Nanti kalau Abbas udah besar dan punya uang, Abbas pasti beliin apa pun yang Mama mau. Janji!”
Rasanya, Najmi hanya ingin mengurai air mata. Abbas ini tampak begitu tak nyata. Sosok anak 6 tahun mana yang bicaranya begitu dewasa? Bahkan ia tak pernah gengsi dan ragu-ragu mengucapkan segala hal baik untuk orang tuanya. Ia berhasil tumbuh menjadi anak yang mungkin saja menjadi idaman dan harapan tiap- tiap orang tua di luar sana.
Namun Najmi sadar, bahwa mereka masih berada di tempat umum. Tak mungkin rasanya ia tiba-tiba meraung di pinggir taman.
“Makasih, ya, Nak.” Dari jutaan kalimat yang ingin ia sampaikan pada sosok Abbas, hanya itu yang nyatanya bisa ia ucapkan. Padahal sebenarnya, Najmi tak butuh hal itu. Tak perlu baginya Abbas membalas budi dengan cara mengeluarkan uang hanya demi membahagiakannya. Tetapi, karena tak mau mematahkan tekad sang anak, Najmi memilih untuk bungkam.
Usai berpamitan dengan sang Kakek, Najmi dan Abbas yang hendak menyeberang demi kembali menuju parkiran mobilnya berada, malah diterjang takdir buruk. Tak butuh waktu lama nyatanya alam raya menghancurkan bahagia yang mereka punya.
Sebab, sepeda yang tadinya membawa bunga-bunga segar nan cantik sudah ambruk dan berhamburan. Sialnya, mereka masih di dekat sana. Najmi yang niatnya melindungi Abbas, malah anak itu yang mendorong pahanya dengan keras hingga mundur beberapa langka.
Najmi membeku. Detik yang berlalu sangatlah cepat hingga yang ia lihat saat ini hanya lah kedua kaki Abbas yang terlindas. Raga kecil yang sempat terserempet dan terguling dua kali itu kini terbujur lemah. Muncrat kentalnya cairan plasma, terekam jelas dalam benak Najmi Desra.
Ia terpaku. Namun tak sampai dalam hitungan satu detik, Najmi menjerit sekeras mungkin. Ia histeris bukan main saat benda beroda terebut melindas kaki anaknya yang kini tak lagi bisa bersuara.
Abbas terpejam, diiringi oleh bising dari klakson kendaraan dan teriakan orang-orang yang turut histeris. Suasananya kacau bukan main.
Adibya tergopoh-gopoh. Seok langkahnya yang hendak sambangi anak istri, mulai kini harus diperkuat. Sebab mulai sekarang, satu-satunya yang akan menjadi tempat Najmi berpegang, adalah dirinya.
Gemuruh pada dada tak henti menambah sesak. Meski kepala terasa sakit luar biasa akibat kabar buruk yang menghantam secara tak terduga, membuat amarah Adibya tetap menggila. Emosinya sudah diujung tanduk. Namun meski begitu, dia yang sedari dulu punya jutaan rasa sabar dalam mengatur amarah, hanya bisa bersikap setenang mungkin.
Ribuan strategi sudah terancang dalam otaknya.
“Mas!” Suara Jafar menggema saat dapati yang dinanti mulai menampakkan diri. Lelaki yang baru saja sehat itu sengaja menunggu sang kakak ipar di lobi rumah sakit.
“Najmi gimana? Operasi Abbas lancar, kan?” cecarnya melempar tanya. Tak sedetik pun Adibya kurangi derapnya yang mengayun cepat.
Langkah terburu itu pun lekas Jafar imbangi. Ia bergegas membawa Adibya ke tempat di mana istrinya berbeda.
“Operasi Abbas lancar, Mas. Tapi,” sahutnya menjeda. Sengaja beri waktu agar Adibya lebih siap untuk menerima.
Sorot Adibya gemetar. Seluruh kemungkinan terburuk dalam benaknya kembali mencuat ke peremukaan.
“Apa?” desaknya menuntut tak sabar.
Air di pelupuk mata Jafar kembali menggenang. Ia juga sangat terguncang dengan apa yang terjadi hari ini. “Abbas nggak bisa jalan lagi, Mas.”
“Amputasi.”
Das Sein by ebbyyliebe